Goldfish Culture in Buddhism and Taoism

Kultur Ikan Maskoki dalam Buddhisme

Buddhisme lahir pada masa 600-500 SM di India kuno. Buddhisme merupakan agama yang menempati peringkat ketiga dalam dominasinya di dunia ini. Pada masa akhir Dinasti Han Barat, Buddhisme diperkenalkan ke China. Di tahun-tahun awal Dinasti Han Timur, Buddhisme dianut oleh banyak keluarga terhormat di China. Selanjutnya Buddhisme terus berkembang dan menyebar ke Wei-Jin, Dinasti Selatan dan Utara, Dinasti Sui dan Dinasti Tang; ini merupakan masa keemasan Buddhisme di Tanah China. Hingga pada masa Dinasti Song, Buddhisme menjadi sangat terkenal dan masyarakat merasa nyaman dengan ajaran ini. Di dalam Buddhisme, ada beberapa doktrin yang diajarkan seperti kehidupan akan berakhir pada kematian dan kemudian bisa berlanjut lagi pada kelahiran kembali, hukum karma, tidak membunuh makhluk hidup, tidak mencuri, tidak melakukan hubungan seks yang salah, tidak berbohong, dan tidak meminum minuman yang memabukkan, serta memperlakukan hewan dengan kasih-sayang. Pengaruh dari doktrin untuk memperlakukan hewan dengan baik ini membuat orang-orang membebaskan ikan hasil tangkapan ke dalam kolam “silakan hidup bebas” (Fangshenchi). Perlahan, ada banyak ikan crucian yang hidup bersama di dalam kolam-kolam dekat vihara tersebut; misalnya Vihara Xinlin, Vihara Yueboluo, Vihara Liuhe, dll. Beberapa kitab kuno Buddhisme menyatakan bahwa merawat hewan hasil tangkapan adalah tindakan terpuji daripada mengurung atau membunuhnya. Tidak diragukan lagi, dalam masa permulaannya, keberadaan Ikan Maskoki memiliki ikatan erat dengan Buddhisme.

Yang menjadi nilai lebih, Buddhisme menganjurkan untuk mengembangkan kualitas diri dan pencarian jati diri sesungguhnya. Secara singkat, Buddhisme menekan stress dan penderitaan mental dengan pemusatan pikiran pada ketenangan, menetralisir dengan menikmati keindahan alami dari langit dan laut, gunung dan sungai, sinar matahari dan hangatnya angin sepoi, serta cahaya bulan dan bintang. Merenungi hal-hal alami seperti ini mampu membawa kita kembali ke sifat alam yang tenang dan menyingkirkan berbagai kecemasan dan tekanan hidup.

Mari kita bayangkan jika seekor Maskoki yang berenang dapat mengingat masa lalu dan meramal masa depan Anda. Tentu hal-hal indah seperti ini bisa mengisi hidup Anda dengan ketabahan, bukan? Sebagai tambahan, dalam Buddhisme Tibet, Ikan Maskoki dihormati sebagai bentuk lambang kebebasan dari penderitaan dan ketidak-puasan hidup. Maskoki juga dianggap sebagai lambang dari keabadian dan kelahiran baru. Berdasarkan penelitian, mata Maskoki dapat melihat jelas menembus keruhnya air; ini mirip dengan analogi bahwa Maskoki bisa mengingat masa lalu dan meramal masa depan yang belum terlihat.

Kultur Ikan Maskoki dalam Taoisme

Kultur Ikan Maskoki China berasal dari nilai-nilai ajaran Konghuchu, Buddhisme dan Taoisme. Khususnya Taoisme, yang menuangkan pemikiran filosofi bahwa surga dan manusia pada dasarnya adalah satu ke dalam kultur Ikan Maskoki. Dengan demikian orang dapat mencapai perasaan puas selama menghargai Ikan Maskoki. Selain itu, pemahaman estetika akan penyesuaian nilai-nilai kemanusiaan pada aspek kesederhanaan, kemurnian, alam dan menghargai kehidupan juga memberikan kultur ini menuju ke arah kebaikan.

A. Personalisasi alam

Apakah Anda pernah mengalami perasaan rileks dan damai ketika melihat Ikan Maskoki? Menurut Anda, apakah Anda seolah mendapatkan pesan dari alam ketika berkomunikasi dengan Ikan Maskoki? Jika memang demikian, Anda akan mendapatkan perasaan rileks sesungguhnya yang dinamakan personalisasi alam. Di dalam Taoisme, personalisasi alam seperti ini menjadi tujuan tertinggi. Personalisasi alam ini berarti sebuah siklus alami yang datang dari alam dan kembali ke alam. Dalam perenungan ini, adalah memungkinkan untuk menyelami sesuatu yang mendalam, misalnya adalah hukum alam. Jadi Anda dan alam dapat berkaitan erat dalam titik ini.

B. Naturalisasi pribadi

Kebalikan dai personalisasi alam, naturalisasi pribadi adalah untuk mempersonalisasi alam. Di dalam Taoisme, semua makhluk hidup dianggap sebagai pribadi yang memiliki kehidupan dan perasaan. Selain itu, dalam pandangan Orang Tionghoa, hal-hal lain seperti bulan, gunung, angin dan awan dianggap memiliki sensitivitas dan merupakan sahabat semua makhluk hidup. Anda dapat menyadari bahwa cara untuk memiliki hubungan yang erat dengan alam adalah dengan berkomunikasi bersama diri sendiri secara spiritual.

Goldfish Culture in Buddhism

Buddhism, which was made its appearance from B.C 600 to B.C 500 in ancient India, is the third dominant religions in the world. Late Western Han Dynasty, it was introduced into China. In early years of Eastern Han Dynasty, Buddhism was prevailed in many rich families. Through full development and spread in Wei-Jin, South and North Dynasty, Sui and Tang Dynasty, it brought Buddhism at its peak. Till Song Dynasty it has become so popular that common families were fond of it. In Buddhism are such doctrines as spirit never dies after death, comeuppance, abstinence from killing, stealing, desiring, cheating and drinking, be kind to live animals. Affected by the doctrine of protecting live animals people set captive fish free into "Let Go" ponds. Gradually, there were many gold carps gathering in the ponds of the famous temples, such as Xinlin temple, Yueboluo temple, Liuhe tower etc. Quite a few ancient books on Buddhism saving captive animals were come out. It is no doubt to say, from its beginning, goldfish has the links with Buddhism.

What's more, Buddhism advocates self-cultivation and self-seeking. Namely, it puts more stress on calming one's mind, enjoying beautiful sceneries such as blue sky and seas, grandiose mountains and limpid rivers, bright sunlight and warm breeze, sliver moon and stars. These natural things seem so magic that they can bring you back to nature and help you remove all worries and pressures.

Let's imagine that a swimming goldfish can recall you of the past and predict your bright future. Aren't such beautiful things able to fill you with encouragement? In addition Tibetan Buddhism, endows goldfish with symbolization of liberation from the suffering and fetters and goldfish also means eternity and palingenesis. According to its doctrine goldfish eyes can penetrate turbid muddy water so it is capable of knowing past and predicting the future.

Goldfish Culture in Taoism

Chinese goldfish culture came from Confucian, Buddhism and Taoism. Especially Taoism poured the philosophic thoughts of heaven and human in one into the goldfish culture. Thus people can gain perfect feeling during appreciating goldfish. Meanwhile, aesthetic notions of conforming human kind itself to simplicity, genuineness, nature & valuing lives were also given to this culture of the kind. A. Personalized nature

Do you have such experience that looking at goldfish you feel relaxed and want to give up all the desires? Do you think you gain aspiration from nature as if you are communicating with it? If so, you will get the real relaxation which is called personalized nature. In Taoism personalized nature is the highest pursuit. That means the circle of coming from nature and going back to. In this course it is possible to think of something profound such as laws of nature. So you and nature can be closely linked together on this point.

B. Naturalized person

Opposite to personalized nature, naturalized person is to personalize nature. In Taoism, live things in nature are regarded as humans who have life and emotion. So in the eyes of Chinese , things such as moon, mountain, wind and cloud have sensibilities and are friends of human. You will find that containing close relationship with nature is to communicate with yourself spiritually.

My Great Web page